Kamis, 07 Maret 2013

SERBA SERBI PEMBIBITAN DALAM BUDIDAYA JANGKRIK


Proses pembibitan dalam budidaya jangkrik meliputi berapa tahapan, secara terperinci
 adalah sebagai berikut : 

A. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Pemilihan bibit dalam budidaya jangkrik merupakan faktor yang penting dalam menentukan kualitas jangkrik yang dihasillkan. Bibit yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas, karena lebih agresif.
Sebagi pedoman ciri-ciri indukan, induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai berikut:

Indukan betina:
  •  sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap.
  •  kedua kaki belakangnya masih lengkap.
  •  bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat.
  •  badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap.
  •  pilihlah induk yang besar
  •  jangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan duburnya apabila dipegang.

Induk jantan:
  • selalu mengeluarkan suara mengerik.
  • permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang.
  •  tidak mempunyai ovipositor di ekor.

·         Induk betina: 
  •      tidak mengerik
  •      permukaan punggung atau sayap halus.
  •          ada ovipositor dibawah ekor untuk mengeluarkan telur.


B. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Setelah diperoleh bibit yang bagus, tahapan selanjutnya adalah perawatan bibit. Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur 10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah. Selain itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu, semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan bergantian setiap hari.

C. Pengembangbiakan
Budidaya jangkrikSampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.

D. Reproduksi dan Perkawinan
Pada umumnya indukan jangkrik dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi  80-90 % apabila diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuanramuan yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang ditambah dengan vitamin. Disamping itu suasana kandang harus mirip dengan habitat alam bebas, dinding kandang diolesi tanah liat, semen putih dan lem kayu, dan diberi daun-daunan kering seperti daun pisang, daun jati, daun tebu dan serutan kayu.
Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari, maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian kandang bagian dalam disemprot dengan larutan antibiotik (cotrymoxale).Selain peneluran secara alami, dapat juga dilakukan peneluran secara caesar. Akan tetapi kekurangannya ialah telur tidak merata matangnya (daya tetas).

E. Proses kelahiran
Sebelum penetasan telur sebaiknya terlebih dahulu disiapkan kandang yang permukaan dalam kandang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang lembut. Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur. Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur. Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar