Kamis, 07 Maret 2013

TAHAPAN PEMELIHARAAN, FAKTOR PENGGANGGU SERTA PEMANENAN DALAM BUDIDAYA JANGKRIK



Tahap budidaya jangkrik selanjutnya adalah tahapan pemeliharaan yang terdiri atas 5 bagian yakni : 

1. Sanitasi dan Tindakan Preventif 

Dalam budidayabjangkrik, kebersihan/sanitasi merupakan faktor yang sangat penting. Untuk menghindari adanya zat-zat atau racun yang terdapat pada bahan kandang, maka sebelum jangkrik dimasukkan kedalam kandang, ada baiknya kandang dibersihkan terlebih dahulu dan diolesi lumpur sawah. Untuk mencegah gangguan hama, maka kandang diberi kaki dan setiap kaki masing-masing dimasukkan kedalam kaleng yang berisi air. 

2. Pengontrolan Penyakit 

Meskipun pada awal sudah dilakukan upaya pemilihan bibit dengan kualitas baik, sehat ada kalanya timbul serangan penyakit. Untuk pembesaran jangkrikn dipilih jangkrik yang sehat dan dipisahkan dari yang sakit. Pakan ternak harus dijaga agar jangan sampai ada yang berjamur karena dapat menjadi sarang penyakit. Kandang dijaga agar tetap lembab tetapi tidak basah, karena kandang yang basah juga dapat menyebabkan timbulnya penyakit. 

3. Perawatan Ternak 

Perawatan jangkrik disamping kondisi kandang yang harus diusahakan sama dengan habitat aslinya, yaitu lembab dan gelap, maka yang tidak kalah pentingnya adalah gizi yang cukup agar tidak saling makan (kanibal). 

4. Pemberian Pakan 

Faktor yang berperan penting dalam setiap budidaya adalah pemberian pakan. Demikian juga halnya dalam budidaya jangkrik ini. Anakan umur 1-10 hari diberikan Voor (makanan ayam) yang dibuat darikacang kedelai, beras merah dan jagung kering yang dihaluskan. Setelah vase ini, anakan dapat mulai diberi pakan sayur-sayuran disamping jagung muda dan gambas. Sedangkan untuk jangkrik yang sedang dijodohkan, diberi pakan antara lain : sawi, wortel, jagung muda, kacang tanah, daun singkong serta ketimun karena kandungan airnya tinggi. Bahkan ada juga yang menambah pakan untuk ternak yang dijodohkan anatar lain : bekatul jagung, tepung ikan, ketan hitam, kuning telur bebek, kalk dan beberapa vitamin yang dihaluskan dan dicampur menjadi satu. 

5. Pemeliharaan Kandang 

Untuk kebersihan dan kesehatan kandang , air dalam kaleng yang terdapat dikaki kandang, diganti setiap 2 hari sekali dan kelembapan kandang harus diperhatikan serta diusahakan agar bahaya jangan sampai masuk kedalam kandang. 

FAKTOR PENGGANGGU 

Penyakit, Hama dan Penyebabnya 

Sampai sekarang belum ditemukan penyakit yang serius menyerang jangkrik. Biasanya penyakit itu timbul karena jamur yang menempel di daun. Sedangkan hama yang sering mengganggu jangkrik adalah semut atau serangga kecil, tikus, cicak, katak dan ular. 

Pencegahan Serangan Hama dan Penyakit 

Untuk menghindari infeksi oleh jamur, maka makanan dan daun tempat berlindung yang tercemar jamur harus dibuang. Hama pengganggu jangkrik dapat diatasi dengan membuat dengan membuat kaleng yang berisi air, minyak tanah atau mengoleskan gemuk pada kaki kandang. 

PEMANENAN 

Hasil Utama 

Dari budidaya jangkrik, peternak jangkrik dapat memperoleh 2 (dua) hasil utama yang nilai ekonomisnya sama besar, yaitu: telur yang dapat dijual untuk peternak lainnya dan jangkrik dewasa untuk pakan burung dan ikan serta untuk tepung jangkrik. 

Penangkapan 

Telur yang sudah diletakkan oleh induknya pada media pasir atau tanah, disaring dan ditempatkan pada media kain yang basah. Untuk setiap lipatan kain basah dapat ditempatkan 1 sendok teh telur yang kemudian untuk diperjual belikan. Sedangkan untuk jangkrik dewasa umur 40-55 hari atau 55-70 hari dimana tubuhnya baru mulai tumbuh sayap, ditangkap dengan menggunakan tangan dan dimasukkan ketempat penampungan untuk dijual. 

Budidaya jangkrik ini sangat menguntungkan, karena setiap fase jangkrik dapat dipasarkan dari telur, jangkrik muda ataupun jangkrik dewasa

SERBA SERBI PEMBIBITAN DALAM BUDIDAYA JANGKRIK


Proses pembibitan dalam budidaya jangkrik meliputi berapa tahapan, secara terperinci
 adalah sebagai berikut : 

A. Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Pemilihan bibit dalam budidaya jangkrik merupakan faktor yang penting dalam menentukan kualitas jangkrik yang dihasillkan. Bibit yang diperlukan untuk dibesarkan haruslah yang sehat, tidak sakit, tidak cacat (sungut atau kaki patah) dan umurnya sekitar 10-20 hari. Calon induk jangkrik yang baik adalah jangkrik-jangkrik yang berasal dari tangkapan alam bebas, karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalaupun induk betina tidak dapat dari hasil tangkapan alam bebas, maka induk dapat dibeli dari peternakan. Sedangkan induk jantan diusahakan dari alam bebas, karena lebih agresif.
Sebagi pedoman ciri-ciri indukan, induk betina, dan induk jantan yang adalah sebagai berikut:

Indukan betina:
  •  sungutnya (antena) masih panjang dan lengkap.
  •  kedua kaki belakangnya masih lengkap.
  •  bisa melompat dengan tangkas, gesit dan kelihatan sehat.
  •  badan dan bulu jangkrik berwarna hitam mengkilap.
  •  pilihlah induk yang besar
  •  jangan memilih jangkrik yang mengeluarkan zat cair dari mulut dan duburnya apabila dipegang.

Induk jantan:
  • selalu mengeluarkan suara mengerik.
  • permukaan sayap atau punggung kasar dan bergelombang.
  •  tidak mempunyai ovipositor di ekor.

·         Induk betina: 
  •      tidak mengerik
  •      permukaan punggung atau sayap halus.
  •          ada ovipositor dibawah ekor untuk mengeluarkan telur.


B. Perawatan Bibit dan Calon Induk
Setelah diperoleh bibit yang bagus, tahapan selanjutnya adalah perawatan bibit. Perawatan jangkrik yang sudah dikeluarkan dari kotak penetasan berumur 10 hari harus benar-benar diperhatikan dan dikontrol makanannya, karena pertumbuhannya sangat pesat. Sehingga kalau makanannya kurang, maka anakan jangkrik akan menjadi kanibal memakan anakan yang lemah. Selain itu perlu juga dikontrol kelembapan udara serta binatang pengganggu, yaitu, semut, tikus, cicak, kecoa dan laba-laba. Untuk mengurangi sifat kanibal dari jangkrik, maka makanan jangan sampai kurang. Makanan yang biasa diberikan antara lain ubi, singkong, sayuran dan dedaunan serta diberikan bergantian setiap hari.

C. Pengembangbiakan
Budidaya jangkrikSampai saat ini pembiakan Jangkrik yang dikenal adalah dengan mengawinkan induk jantan dan induk betina, sedangkan untuk bertelur ada yang alami dan ada juga dengan cara caesar. Namun risiko dengan cara caesar induk betinanya besar kemungkinannya mati dan telur yang diperoleh tidak merata tuanya sehingga daya tetasnya rendah.

D. Reproduksi dan Perkawinan
Pada umumnya indukan jangkrik dapat memproduksi telur yang daya tetasnya tinggi  80-90 % apabila diberikan makanan yang bergizi tinggi. Setiap peternak mempunyai ramuanramuan yang khusus diberikan pada induk jangkrik antara lain: bekatul jagung, ketan item, tepung ikan, kuning telur bebek, kalk dan kadang-kadang ditambah dengan vitamin. Disamping itu suasana kandang harus mirip dengan habitat alam bebas, dinding kandang diolesi tanah liat, semen putih dan lem kayu, dan diberi daun-daunan kering seperti daun pisang, daun jati, daun tebu dan serutan kayu.
Jangkrik biasanya meletakkan telurnya dipasir atau tanah. Jadi didalam kandang khusus peneluran disiapkan media pasir yang dimasukkan dipiring kecil. Perbandingan antara betina dan jantan 10 : 2, agar didapat telur yang daya tetasnya tinggi. Apabila jangkrik sudah selesai bertelur sekitar 5 hari, maka telur dipisahkan dari induknya agar tidak dimakan induknya kemudian kandang bagian dalam disemprot dengan larutan antibiotik (cotrymoxale).Selain peneluran secara alami, dapat juga dilakukan peneluran secara caesar. Akan tetapi kekurangannya ialah telur tidak merata matangnya (daya tetas).

E. Proses kelahiran
Sebelum penetasan telur sebaiknya terlebih dahulu disiapkan kandang yang permukaan dalam kandang dilapisi dengan pasir, sekam atau handuk yang lembut. Dalam satu kandang cukup dimasukkan 1-2 sendok teh telur dimana satu sendok teh telur diperkirakan berkisar antara 1.500-2.000 butir telur. Selama proses ini berlangsung warna telur akan berubah warna dari bening sampai kelihatan keruh. Kelembaban telur harus dijaga dengan menyemprot telur setiap hari dan telur harus dibulak-balik agar jangan sampai berjamur. Telur akan menetas merata sekitar 4-6 hari.

SARANA DAN PRASARANA BUDIDAYA JANGKRIK



Jangkrik merupakan serangga yang sangat familiar bagi masyarakat Indonesia. Manfaat yang didapatkan dari serangga ini cukup banyak, dari pakan burung ataupun ikan, diolah sebagai dan yang tengah banyak dibicarakan adalah sebagai bahan makanan karena kandungan proteinnya yang tinggi. Pada awalnya pemenuhan kebutuhan jangkrik sangat tergantung dari alam, ama kelamaan dengan berkurangnya jangkrik yang ditangkap dari alam maka mulailah dicoba untuk membudidayakan jangkrik alam dengan diternakkan secara intensif. Budidaya jangkrik mudah dan murah untuk dilakukan, siklus hidupnya yang singkat dan pengembangbiakan yang cukup mudah. Keterbatasan jumlah jangkrik di alam, didukung sejumlah manfaat yang diperoleh dari jangkrik ini yang secara otomatis meningkatkan permintaan jangkrik dipasaran. Kemudahan dalam beternak jangkrik ini menjadikan budidaya jangkrik sebagai peluang usaha yang menjanjikan. 

Budidaya jangkrik membutuhkan waktu yang singkat mengingat waktu yang dibutuhkan untuk produksi telur yang akan diperdagangkan hanya memerlukan waktu  2-4 minggu. Sedangkan untuk produksi jangkrik untuk pakan ikan dan burung maupun untuk diambil tepungnya, hanya memerlukan 2- 3 bulan. Jangkrik betina mempunyai siklus hidup  3 bulan, sedangkan jantan kurang dari 3 bulan. Dalam siklus hidupnya jangkrik betina mampu memproduksi lebih dari 500 butir telur. 

Penyebaran jangkrik di Indonesia adalah merata, namun untuk kota-kota besar yang banyak penggemar burung dan ikan. Sebagai tambahan informasi ada lebih dari 100 jenis jangkrik yang terdapat di Indonesia. Jenis yang banyak dibudidayakan pada saat ini adalahGryllus Mitratus danGryllus testaclus, untuk pakan ikan dan burung. Kedua jenis ini dapat dibedakan dari bentuk tubuhnya, dimana Gryllus Mitratus wipositor-nya lebih pendek disamping itu Gryllus Mitratusmempunyai garis putih pada pinggir sayap punggung, serta penampilannya yang tenang. 

BUDIDAYA JANGKRIK 

Sebagai persyaratan awal budidaya jangkrik adalah penentuan lokasi. Lokasi budidaya harus tenang, teduh dan mendapat sirkulasi udara yang baik. Lokasi jauh dari sumber-sumber kebisingan seperti pasar, jalan raya dan lain sebagainya. Tidak terkena sinar matahari secara langsung atau berlebihan. 

I. Tahap Penyiapan Sarana dan Peralatan 

Jangkrik merupakan jenis hewab nokturnal atau melakukan kegiatan diwaktu malam hari, maka kandang jangkrik jangan diletakkan dibawah sinar matahari, tempatkan di lokasi yang teduh dan gelap. Sebaiknya dihindarkan dari lalu lalang orang lewat terlebih lagi untuk kandang peneluran. Untuk menjaga kondisi kandang yang mendekati habitatnya, maka dinding kandang diolesi dengan lumpur sawah dan diberikan daun-daun kering seperti daun pisang, daun timbul, daun sukun dan daun-daun lainnya untuk tempat persembunyian disamping untuk menghindari dari sifat kanibalisme dari jangkrik. 

Dinding atas kandang bagian dalam sebaiknya dilapisi lakban keliling agar jangkrik tidak merayap naik sampai keluar kandang. Disalah satu sisi dinding kandang dibuat lubang yang ditutup kasa untuk memberikan sirkulasi udara yang baik dan untuk menjaga kelembapan kandang. 

Besar ukuran kandang / kotak pemeliharaan jangkrik disesuaikan dengan kebutuhan untuk jumlah populasi jangkrik tiap kandang. Pada umumnya kandang jangkrik berbentuk persegi panjang dengan ketinggian 30-50 cm, lebar 60-100 cm sedangkan panjangnya 120-200 cm. Kotak (kandang) dapat dibuat dari kayu dengan rangka kaso, namun untuk mengirit biaya, maka dinding kandang dapat dibuat dari triplek. Kandang biasanya dibuat bersusun, dan kandang paling bawah mempunyai minimal empat kaki penyangga. Untuk menghindari gangguan binatang seperti semut, tikus, cecak dan serangga lainnya, maka keempat kaki kandang dialasi mangkuk yang berisi air, minyak tanah atau juga vaseline (gemuk) yang dilumurkan ditiap kaki penyangga.

Jumat, 01 Maret 2013

AGROBISNIS KAKAO : KAKAO SALAH SATU KOMODITAS EXPORT INDONESIA



Alam Indonesia yang terkenal akan kesuburannya menyebakan negara kita ini menghasilkan berbagai jenis hasil bumi dengan kualitas prima. Dengan kualitas yang prima menjadikan hasil bumi tersebut sebagai komoditas ekspor yang diminati diberbagai belahan dunia. Kakao adalah komoditas ekspor Indonesia yang mengalami perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Perkembangan yang menyolok terjadi semenjak adanya krisis moneter. Pada awal krisis tahun 1998 ekspor kakao baru mencapai 266.270 ton (US$ 419,8 juta). Ekspor biji kakao kemudian terus meningkat, sehingga tahun 2001 lalu mencapai 438.775 ton., be¬rarti ekspornya mengalami lonjakan 64,8%. Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US dollar menyebabkan komoditas kakao Indonesia menjadi lebih bersaing dipasar ekspor dan di dalam negeri petanipun menjadi lebih bergairah mengolah kebunnya supaya hasil panennya meningkat.

Indonesia bisa terus meningkatkan ekspor kakao karena Indonesia hingga kini tidak menjadi anggota ICCO (International Cocoa Organization), sehingga tidak terkena pembatasan ekspor sehingga ekspor. Namun dengan melonjaknya ekspor tersebut, industri pengolahan kakao di dalam negeri menjerit kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga yang mema¬dai. Untuk mempertahankan operasi pabriknya mereka terpaksa mengimpor bahan baku tersebut.

Akibat tingginya harga kakao banyak produsen kakao olahan yang merugi, malah bebera¬pa di antaranya berhenti beroperasi. Pada tahun 2001 lalu impor kakao melonjak dua kali lipat lebih, dari 17.605 ton tahun sebelumnya menjadi 38.717 ton. Peningkatan itu menandakan produsen kakao olahan kesulitan memperoleh kakao biji didalam negeri sehingga untuk bisa terus berproduksi terpaksa mengimpor bahan baku tersebut. Didalam negeri sendiri industri hilir kakao yaitu industri makanan dan kosmetik, terus berkembang sehingga permintaan terhadap kakao olahan seperti cocoa butter dan cocoa powder juga meningkat.

Pesatnya ekspor kakao didorong oleh harganya yang terus meningkat di pasar internasional yaitu pada bulan September 2002 ini mencapai rekor tertinggi selama 15 tahun yaitu sebesar US$ 1.850 per ton. Menurut ICCO harga masih akan meningkat atau paling tidak bertahan karena pasok kakao di dunia berkurang akibat masalah dalam negeri yang dihadapi produsen utama kakao didunia yaitu Pantai Gading.

Besarnya permintaan terhadap produk kakao di dalam dan di luar negeri membuka peluang untuk investasi di sektor itu. Peluang ini ditunjang oleh kondisi lahan maupun iklim Indonesia yang umumnya cocok untuk tanaman ini. Namun kenyataan¬nya, sejak krisis 1997 lalu, terkecuali perkebunan rakyat, belum banyak minat investasi baru di sektor perkebunan ini, begitu juga minat investor di sektor pegolahannya makin berkurang.

AGROBISNIS COKLAT : SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO



Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi kakao / Coklat. Lingkungan alami tanaman kakao / Coklat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan, temperatur dan sinar matahari menjadi bagian dari faktor iklim yang menentukan. Demikian juga faktor fisik dan kimia tanah yang erat kaitannya dengan daya tembus (penetrasi) dan kemampuan akar menyerap hara. 

Ditinjau dari wilayah penanamannya, kakao / Coklat ditanam pada daerah-daerah yang berada pada 10 derajat LU sampai dengan 10 derajat LS. Walau¬pun demikian penyebaran pertanaman kakao / Coklat secara umum berada pada daerah-daerah antara 7 derajat LU sampai dengan 10 LS. Hal ini tampaknya erat kaitannya dengan distribusi curah hujan dan jumlah penyinaran sinar matahari sepanjang tahun. Namun begitu, kakao / Coklat masih toleran ditanam pada daerah 20 derajat LU sampai 20 derajat LS. Dengan demikian Indonesia yang berada pada 5 derajat LU sampai 10 LS masih sesuai untuk penanaman kakao / Coklat. Daerah-daerah di Indonesia tersebut ideal bilamana tidak lebih tinggi dari 800 m dari permukaan laut. 

Hal terpenting dari curah hujan yang berhubungan dengan pertanaman dan produksi kakao / Coklat adalah distribusinya sepanjang tahun. Hal terse¬but berkaitan dengan masa pembentukan tunas muda (flushing) dan produksi. Areal penanaman kakao / Coklat yang ideal adalah daerah-daerah bercurah hujan 1.110-3.000 mm per tahun. Di samping kondisi fisik dan kimia tanah, curah hujan yang melebihi 4.500 mm per tahun tampaknya berkaitan dengan serangan penyakit buah (black ponds). Melihat kondisi curah hujan di beberapa daerah, secara umum areal penanaman kakao / Coklat di Indonesia masih potensial untuk dikembangkan. 

Pengaruh temperatur terhadap kakao / Coklat erat kaitannya dengan ketersediaan air, sinar matahari dan kelembapan. Faktor-faktor tersebut dapat dikelola melalui pemangkasan, penataan tanaman pelindung dan irigasi. Temperatur sangat terhadap pembentukan flush, pembungaan, serta kerusakan daun. 

Menurut hasil penelitian, temperatur ideal bagi pertumbuhan kakao / Coklat adalah 30 derajat – 32 derajat (maksimum) dan 18 derajat – 21 derajat (minimum). kakao / Coklat dapat juga tumbuh dengan baik pada temperatur minimum 15% per bulan dengan temperatur minimum absolut 10 derajat perbulan. Temperatur ideal lainnya bagi pertumbuhan kakako adalah 26,6 derajat yang erat kaitannya dengan distribusi tahunan 23,9 derajat – 26,7 derajat masih baik untuk pertumbuhan kakao / Coklat asalkan tidak didapati musim hujan yang panjang. Berdasarkan keadaan iklim di Indonesia dengan temperatur 25% – 26 derajat, merupakan temperatur rata-rata tahunan tanpa faktor pembatas. Karena itu daerah-daerah di Indonesia sangat cocok jika ditanami kakao / Coklat. 
Lingkungan hidup alami tanaman kakao / Coklat adalah hutan hujan tropis yang di dalam pertumbuhannya membutuhkan naungan untuk mengurangi pencahayaan penuh. Cahaya matahari yang terlalu banyak menyoroti tanaman kakao / Coklat akan mengakibatkan lilit batang kecil, daun sempit dan tanaman relatif pendek. Namun demikian, sejumlah peneliti menyimpulkan bahwa maksimisasi penggunaan cahaya matahari di dalam proses fotosintesis ternyata tidak memberikan pengaruh merugikan terhadap pertumbuhan dan produksinya. 

kakao / Coklat dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, asalkan persyaratan fisik dan kimia yang berperan terhadap pertumbuhan dan produksinya terpenuhi. Kemasaman tanah (pH), kadar zat organik, unsur hara, kapasitas adsorbsi dan kejenuhan basa merupakan sifat kimia yang perlu diperhatikan. Sedangkan faktor fisiknya adalah kedalaman efektif, tinggi permukaan air tanah, drainase, struktur dan konsistensi tanah. Selain itu, kemiringan lahan juga merupakan sifat fisik yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kakao / Coklat. 

Tanaman kakao / Coklat dapat tumbuh dengan baik pada tanah yang memiliki kemasaman (pH) 6 – 7,5, tidak lebih tinggi dari 8 serta tidak lebih rendah dari 4, paling tidak pada kedalaman 1 m. Hal itu disebabkan terbatasnya ketersediaan hara pada pH tinggi dan efek racun daro Al, Mn dan Fe pada pH rendah. Tanah yang ideal bagi tanaman kakao / Coklat pH-nya adalah 5,6 – 7,2. Dengan cukup luasnya lahan masam ber pH rendah di Indonesia menjadi faktor pembatas pengembangan kakao / Coklat di daerah- daerah pantai atau rawa-rawa (tanah gambut). 

Tekstur tanah yang baik untuk tanaman kakao / Coklat adalah lempung liat berpasir dengan komposisi 30 – 40 persen fraksi liat, 50% pasir dan 10% – 20% debu. Susunan demikian akan mempengaruhi ketersediaan air dan hara serta aerasi tanah. Struktur tanah yang remah dengan agregat yang mantap, menciptakan gerakan air dan udara di dalam tanah sehingga menguntungkan bagi akar. Tanah tipe latosol yang memiliki fraksi liat yang tinggi ternyata sangat kurang menguntungkan tanaman kakao / Coklat, sedangkan tanah regosol dengan tekstur lempung berliat, walaupun mengandung kerikil masih baik bagi tanaman kakao / Coklat. Dengan demikian, tanah-tanah pantai bertekstur liat masih baik ditanami kakao / Coklat bila lapisan atasnya kaya dengan bahan organik. 

Di samping faktor fisik di atas, kakao / Coklat juga menginginkan solum tanah minimal 90 cm. Walaupun ketebalan solum tidak selalu mendukung pertumbuhan, tetapi solum tanah setebal itu dapat dijadikan pedoman umum untuk mendukung pertumbuhan kakao / Coklat. Secara umum terkecuali didaerah pantai atau rawa-rawa (tanah gambut), kondisi curah hujan, temperatur rata – rata tahunan (25 – 26 derajat celcius), tanaman kakao / Coklat bisa tumbuh diberbagai daerah di Indonesia. Hanya saja untuk tumbuh dengan baik, memerlukan lahan yang ideal /cocok (S1) hingga bisa menghasilkan biji kakao / Coklat 1,5 ton perhektar. Lahan itu diantaranya berupa tanah lempung liat berpasir atau tanah regosol dengan ketebalan solum tanah minimal 90 cm.