Jumat, 01 Maret 2013

AGROBISNIS KAKAO : KAKAO SALAH SATU KOMODITAS EXPORT INDONESIA



Alam Indonesia yang terkenal akan kesuburannya menyebakan negara kita ini menghasilkan berbagai jenis hasil bumi dengan kualitas prima. Dengan kualitas yang prima menjadikan hasil bumi tersebut sebagai komoditas ekspor yang diminati diberbagai belahan dunia. Kakao adalah komoditas ekspor Indonesia yang mengalami perkembangan yang pesat dalam beberapa tahun terakhir ini.

Perkembangan yang menyolok terjadi semenjak adanya krisis moneter. Pada awal krisis tahun 1998 ekspor kakao baru mencapai 266.270 ton (US$ 419,8 juta). Ekspor biji kakao kemudian terus meningkat, sehingga tahun 2001 lalu mencapai 438.775 ton., be¬rarti ekspornya mengalami lonjakan 64,8%. Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap US dollar menyebabkan komoditas kakao Indonesia menjadi lebih bersaing dipasar ekspor dan di dalam negeri petanipun menjadi lebih bergairah mengolah kebunnya supaya hasil panennya meningkat.

Indonesia bisa terus meningkatkan ekspor kakao karena Indonesia hingga kini tidak menjadi anggota ICCO (International Cocoa Organization), sehingga tidak terkena pembatasan ekspor sehingga ekspor. Namun dengan melonjaknya ekspor tersebut, industri pengolahan kakao di dalam negeri menjerit kesulitan mendapatkan bahan baku dengan harga yang mema¬dai. Untuk mempertahankan operasi pabriknya mereka terpaksa mengimpor bahan baku tersebut.

Akibat tingginya harga kakao banyak produsen kakao olahan yang merugi, malah bebera¬pa di antaranya berhenti beroperasi. Pada tahun 2001 lalu impor kakao melonjak dua kali lipat lebih, dari 17.605 ton tahun sebelumnya menjadi 38.717 ton. Peningkatan itu menandakan produsen kakao olahan kesulitan memperoleh kakao biji didalam negeri sehingga untuk bisa terus berproduksi terpaksa mengimpor bahan baku tersebut. Didalam negeri sendiri industri hilir kakao yaitu industri makanan dan kosmetik, terus berkembang sehingga permintaan terhadap kakao olahan seperti cocoa butter dan cocoa powder juga meningkat.

Pesatnya ekspor kakao didorong oleh harganya yang terus meningkat di pasar internasional yaitu pada bulan September 2002 ini mencapai rekor tertinggi selama 15 tahun yaitu sebesar US$ 1.850 per ton. Menurut ICCO harga masih akan meningkat atau paling tidak bertahan karena pasok kakao di dunia berkurang akibat masalah dalam negeri yang dihadapi produsen utama kakao didunia yaitu Pantai Gading.

Besarnya permintaan terhadap produk kakao di dalam dan di luar negeri membuka peluang untuk investasi di sektor itu. Peluang ini ditunjang oleh kondisi lahan maupun iklim Indonesia yang umumnya cocok untuk tanaman ini. Namun kenyataan¬nya, sejak krisis 1997 lalu, terkecuali perkebunan rakyat, belum banyak minat investasi baru di sektor perkebunan ini, begitu juga minat investor di sektor pegolahannya makin berkurang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar